Friday, January 23, 2015

Izinkan Aku Menangis

# Catatan 02 Cinta Hingga ke Syurga #

Suamiku, izinkan aku menangis

@nestrinadezda


Menikah denganmu adalah salah satu skenario kehidupan yang paling baik dari yang terbaik yang telah Allah goreskan untukku
Menjadi istrimu adalah salah satu gerbang utamaku untuk senantiasa menyadari betapa jauh diri ini dari kata baik sebagai seorang hamba
Memilikimu sebagai seorang imam dalam rumah tangga ini adalah nasehat terindah bagi jiwaku yang sangat membutuhkan bekal terbaik untuk kehidupan akhiratku kelak

Sungguh, keberadaanku sebagai pendampingmu kian hari rasanya kian membuatku tertampar dengan kenyataan bahwa hanya kekurangan demi kekurangan sajalah yang sering kulakukan padamu
Maka dengannya, tak jarang air mata ini mengalir. Menitik jatuh membasahi bumi. Meratap sedih akan khilaf diri nan menggunung

Tuesday, January 20, 2015

Indahnya Iman

"Sesungguhnya Allah adalah dzat yang maha indah dan mencintai keindahan".
(HR. Thabrani dan Al Hakim)

Pernahkah suatu ketika engkau merasa gundah dan bersedih. Pernahkah suatu ketika engkau putus asa karena tak tau bagaimana menyelesaikan masalahmu. Namun tanpa diduga Allah berikan petunjuk dengan cara-Nya yang indah.

Entah melalui ceramah yang kebetulan kau ikuti dan membahas tentang masalahmu.
Entah melalui artikel yang tanpa sengaja kau dapat dan membahas masalahmu.
Entah melalui kawan yang bercerita hal yang dapat menyelesaikan masalahmu.

Thursday, January 15, 2015

Hanyut dalam Rinai Hujan

Kali ini, kata itu datang dari seorang kakak nun jauh disana.

"kasih satu kata dulu..." ujarku

"menghanyutkan" jawabnya

"kenapa pilih kata itu?"

"gak tau sih, suka aja sama kata itu"


Katanya, terkadang ada makna yang tersembunyi yang tanpa kita sadari mampu menghanyutkan dan melebur menjadi emosi hati.

ah, cuma buat orang perasa aja Dy.. Sisi lainku berkata (jangan protes, aku lagi monolog ini.. haha..).

Tuesday, January 13, 2015

Berikan Aku Satu Kata

Mungkin kalimat itulah yang sering aku lontarkan pada semua kawanku ketika aku mulai buntu untuk menulis. Namun terkadang satu kata itulah yang memberi nafas hidup bagi blog ini (ceile...).

"Jika umurmu tak sepanjang umur dunia, sambunglah dengan tulisan"
(Pramoedya Ananta Toer)


Terkadang kawan bertanya: kok kamu gak bosan-bosan nulis di blog sih?
Aku harus jawab apa ya...

Karena hobi? bahkan sampai sekarang aja aku gak bisa memastikan apa hobiku sebenarnya.
Gak ada kerjaan? mungkinlah ya... (lirik setumpuk kerjaan dan tumpukan kertas thesis di pojokan)
Trus apa dong?

Roti Bakar

Gak, aku gak ingin buat posting tentang bagaimana membuat roti bakar. Tapi ini tentang kehidupan (ceile..).


"Sekarang ini, aku mengibaratkan hidup seperti roti bakar. Di bolak balik, pake mentega, pake coklat, begitu selesai, dinikmati.. lezat..ada asin manis pahit. Makannya bikin surprise, karena terkadang bagian tengah terlalu manis, pinggirnya terlalu asin, tepinya pahit"

Sebuah chat dari kawanku yang dikirim beberapa waktu lalu. Satu chat yang membuat jemariku tak sabar merangkai semua kata yang ada dikepala dan benakku.

Monday, January 12, 2015

Satu titik

"Noto Manah. Bukan tentang kau bisa dan sanggup menghancurkan segala hal. Tapi tentang menusukkan senjatamu pada satu titik mematikan. Satu titik saja"

Begitulah yang dituliskan oleh sahabatku dalam statusnya di salah satu media chat.

"noto manah apaan artinya sih Er?" tanyaku padanya

"menata hati atau jiwa mbak"

"hooo, ku kira tentang panahan.."

"iya, itu filosofi memanah. Peribahasanya 'manah iku noto manah' yang artinya memanah itu adalah menata hati dan jiwa"

Iya, memanah mengajarkan kita fokus pada tujuan, memanah mengajarkan kita tenang dalam mengejar tujuan. Tenang, tidak tergesa-gesa (karena bisa jadi ketergesaan ada campur tangan syaithan) namun tidak juga malas.

Menata hati?

Wednesday, January 07, 2015

Satu Tarikan Nafas

Pernahkah kau berpikir, kalau Allah menarik udara-Nya dari bumi kita? Menjadikan bumi kita ruang hampa selayaknya ruang angkasa (atau selayaknya hatiku? #halah, haha.. :D).
Kita tak akan sanggup bertahan. Atau bayangkanlah, organ tubuh kita yang bertugas menghirup udara-Nya tak berfungsi dengan baik? Sanggupkah kau bertahan kawan?


Betapa kasih sayang-Nya melebihi apapun. Sebagian makhluk merusak bumi kita yang seharusnya kita jaga. Sebagian makhluk memilih dunia daripada bercengkerama dengan-Nya dalam sujud panjang sholat.

Teguran

Ya Rabb,
Inikah teguran..
Teguran-Mu kali ini meremuk redamkan hati dan emosiku..

Kini aku tau apa yang Kau ingin aku pelajari..
Kini aku tau alasan dari sebuah pertemuan..
Kau ajarkan aku banyak hal..
Atas semua kesalahan yang selama ini tanpa ku sadari aku lakukan.
Kau ajarkan aku makna sebuah kata..

Ya Rabb, maafkan aku yang tak tau diri ini..
Yang selalu memohon dan memohon..
Tapi sungguh tak kuasa ku bendung sedih ini...

Sudut Hati

Kawan..coba kau tengoklah sudut hatimu..
Apa ia baik-baik saja?

Pastikan ia tak terluka karena ulahmu. Pastikan kau bertanya padanya ketika kau lakukan sesuatu.

Emang kenapa Dy? kan hanya sebuah hati..


Hanya sebuah hati, tapi hati itulah yang tanpa kau sadari mampu merajaimu.

Pesan Rindu

Namanya Enok, my partner in crime waktu SMA. Si jago bahasa inggris dan biologi ini memiliki sifat yang bertolak belakang denganku. Dia yang super galak, aku yang lemah lembut. Dia yang mudah berpikir logis, aku yang mudah terbawa perasaan. Tapi itulah yang membuat kami akrab. Walau sempat juga marahan dan membuat seluruh kawan sekelas bertanya "kalian kenapa sih?"

Tetiba dapat kabar ia menikah, rasanya campur aduk antara bahagia dan sedih (lagi gak jelas moodnya nih). Bahagia akhirnya ia temukan pangerannya, sedih karena aku tak dapat hadir dan melihatnya.

"Jar, insyaAllah enok nikah tanggal sekian, tapi belum enok release di FB, fajar bisa datangkah?" chatnya.

Lagi-lagi, mata ini berair menahan tangis. Hanya mampu menghela nafas.

"kok gak dari jauh hari fajar dikasih tau noqe?, kalau tanggal segitu pas fajar gak bisa datang" balasku

Tuesday, January 06, 2015

Sayap Yang Hilang


Satu kisah terjalin tak sengaja. Kisah yang tak ku inginkan 'kan berakhir seperti ini. Aku selalu tau pertemuan kan membuahkan perpisahan. Namun berkali-kali ku rasa, aku tak mampu membendung air mata. Duhai, tak bisakah kita tetap bersama kawan.

Rasa yang terlanjur ini telah merasuk ke dalam hingga tak sanggup tuk berpikir kau kan pergi meninggalkanku.
Ah, Tuhan, jika begini rasanya, aku tak ingin ada pertemuan. Ingin rasa aku mengatakan hal itu sekuat tenaga, namun aku menarik diri dari larutnya sedih, dan berkata..