Hanya Sebuah Cerita Di SMA (Part 1)

 "Nadiaa, Nizaaam, ayok cepet, Ibu udah terlambat ini.." Panggil Ibu dari ruang makan.

Aku bergegas ke bawah.

[BRUK]

Aku kesakitan, kakiku menendang benda keras yang ada di tengah jalan.

"Oi! Nizam! bisa gak sih gak taruh tasmu sembarangan! sakit nih ketendang mulu"

"Salah kakak lah, jalan gak lihat-lihat" Katanya yang masih lanjut makan.

Dia, Nizam, Adikku, kelas X di SMA yang sama denganku. Ah, entahlah kenapa dia ambil SMA yang sama denganku. Di rumah saja sudah cukup membuatku kesal. Aku hanya menghela nafas.

"Sudah selesai makannya, yuk berangkat" Kata Ibuku yang bergegas mengambil kunci mobil.

"Aku duduk depaaaaan" Nizam sudah ngeloyor pergi

Ah, satu lagi, kami selalu rebutan duduk di depan kalau lagi diantar Ibu.

"Ayah mana bu? udah berangkat?" tanyaku yang masih kesal menatap Nizam yang sudah sampai di pintu depan.

"Udah, ayah ada rapat di sekolahnya"

Ayah dan Ibuku adalah guru. Ayah guru SMP, dan Ibu guru SD.

"Buk, kenapa sih gak mau nganterin kami sampai ke sekolah?" tanya adikku untuk ke sekian kalinya ketika Ibuku memberhentikan mobilnya di shelter bus.

Aku memutar bola mataku, tak habis pikir. Padahal dia tau apa yang akan ibu jawab.

"Gak usah manja. Cukup sampai SMP aja ayah dan ibu antar jemput."

"Tapi kadang aku telat sampai sekolah karena bus sering penuh Bu"

"Berangkatlah lebih pagi. Lagian kamu kan sudah setengah tahun naik bus, kenapa masih belum bisa memperkirakan waktu berangkat hah?" Omel ibuku.

"Yaah, Ibu kan tau, kadang aku cape karena aku juga harus latihan sore harinya. Kalau begitu, belikan aku motor Bu"

For your information, adikku adalah atlet panahan sejak SMP, dan ia memang memiliki agenda rutin latihan setiap minggunya. Tapi, meskipun begitu, aku yakin Ibu tidak akan mudah digoyahkan, dan Ibu akan bilang:

"Kamu belum 17 tahun, sudah sana keluar, Ibu sudah terlambat."

Kami melambai ketika mobil Ibu mulai menjauh.

"Haah, kenapa sih, Ibu gak pernah goyah. Padahal sudah aku pakai segala jurus biar aku bisa dapat motor"

"Hadeh, kau ini gak pernah kapok" Kataku yang meninggalkannya, duduk di shelter bus.

[BRRMM]

Sebuah motor melewati shelter. Aku mengenali jaket yang digunakan si pengemudi. Hmm, itu kan...

"Kak Bastian kan itu?" tanya adikku yang mulai menghampiriku "Waah, hebat, udah pakai motor dia semester ini"

Aku terus menatapnya, hingga motornya menghilang di balik kendaraan lain.

"Kak, bantu aku bilang sama Ibu. Kau gak mau aku bonceng naik motor ke sekolah" Tanya adikku sambil menggoyang-goyangkan lenganku.

"Aah, ogah" kataku sembari mengibaskan lenganku.

Bus pun datang. Aku naik, dan adikku masih juga membujukku.

***

Aku pun sampai di shelter bus dekat sekolah. Dari shelter sampai ke sekolah butuh jalan kaki sekitar 15 menit.

"Tuh, cape kan Kak, kalau harus jalan kaki, coba kalau naik motor, kakak tinggal duduk manis aja" Ledek adikku.

"Nizaaaaam" Kataku yang bersiap melempar tas sekolahku.

Nizam sudah berlari ke arah teman-temannya sambil meledekku.

"Hadeeeh, anak itu.."

"Nadiaa" Panggil suatu suara. Aku berpaling ke arah belakang

"Meeel" Aku melambai tersenyum.

"Berantem lagi sama adikmu?" Tanya Melia, yang sudah hafal rutinitas kami setiap pagi.

"Yaah, begitulah"

"Kalian lucu banget sih" Katanya seraya melihat jam tangannya. "Eh, ya ampun, udah jam 7 kurang 20 menit, ayok Nad, larii, upacara kita"

Dan kami, juga anak-anak di belakang kami berlarian.

Yups, ini 22 November 20xx, hari Senin, hari pertama di semester 2 SMA kelas XI. Upacara pagi adalah hal yang paling aku tunggu-tunggu, karena aku bisa main dan baris di barisan kelas lain selain kelasku,  hehe.

Bel pukul 7 pagi. Aku bergegas mengambil topi sekolah. Teman-teman sekelas ku belum ada yang beranjak. Aku langsung kabur ke kelas IPA 2, kelasnya Melia dan Hana, sahabatku sejak SMP. Sedangkan aku berada di kelas IPA 3, yang katanya adalah kelas unggulan. Yah, kelas unggulan, 3 siswa yang sering ikut olimpiade sains antar sekolah ada di kelasku.

Aku, Melia dan Hana berbincang bincang sembari mereka bersiap ke lapangan upacara. Aku masih belum begitu akrab dengan teman sekelasku, karena saat naik ke kelas XI anak-anaknya di-rolling, digabung sesuai peringkat.

[BRUK]

Again?

Kataku kesal dalam hati. Entah siapa yang aku tabrak di hari pertama sekolah.

Bastian?!

Aku lupa kalau Bastian anak kelas IPA 2. Dia tersenyum ke arahku.

"Asyik bener ngobrolnya sampe ga liat orang di depan"

"Haha, maaf ya" kataku seraya berlalu, menarik lengan Melia dan Hana

"Kalian lagi marahan ya?" Tanya Melia

"Gak kok" Kataku yang mulai baris di kelas IPA 2.

Setiap kelas akan baris dalam dua barisan, dan di sebelahnya akan ada ketua kelas yang memimpin barisan. Dan Aku, selalu mengambil barisan di kelas IPA 2.

"Lo ngapain disini Bas? di depan sana, Lo kan ketua kelas" Kata Hana sembari mendorong tubuh Bastian yang sudah berdiri di sebelahnya.

"Gue lagi males, biar Tomi aja yang mimpin barisan"

Aku yang berada di belakang Hana hanya menatapnya. Pelan-pelan ingin beranjak pergi ke barisan kelasku saja.

"Loh, gak jadi baris disini Nad?" tanya Melia yang berdiri di belakangku

Haduh Melia, kenapa pake tanya sih.

Baru saja aku ingin cari alasan supaya balik ke barisanku, entah kenapa Bastian malah pindah berdiri di sebelahku.

"Gak apa, disini aja, guru-guru gak bakalan hafal anak satu kelas kok" kata Bastian

Aku tersenyum canggung ke arahnya. Dan gak berapa lama, upacara dimulai, hilang sudah kesempatanku pindah barisan. Alhasil, aku baris bersebelahan dengan Bastian.

Dia Bastian, ketua ekskul Pramuka di sekolah, ekskul yang aku ikuti juga. Dan dia adalah orang yang sangat ingin aku hindari.

Karena dia tukang bully?

Bukaan, karena, aku mulai sadar kalau aku suka sama dia, di semester sebelumnya.

*****

Cinta Yang Mengusik


Satu foto mampu membawaku kembali.
Ku pikir aku sudah melupakan rasa itu.
Tapi nyatanya, ia hanya tersimpan jauh di sudut kecil hatiku.
Tertidur,
Yang kapan saja bisa bangun menyeruak ke permukaan.

Rasa itu semakin nyata,
Seolah baru kemarin.

Berawal dari sebuah pertemuan tak terduga.
Perkenalan yang canggung.
Saling curi pandang.
Berbagi cerita.
Gosip.

Dan tanpa disadari, rasa itu sudah tumbuh.
berbunga dan mengakar dalam hati.
Melahirkan sebuah kerinduan,
Tatapan penuh arti,
Dan cinta.

Aku
Dan Kau
Kita memiliki rasa yang sama

Namun itu tak berlangsung lama
Kau menghilang
Meninggalkanku sendiri
Dengan penuh tanya
Apakah mungkin rasa itu hanya milikku sendiri?

Rasa yang sudah terlanjur berbunga lebat
Ku paksa untuk layu
Mengering
Meninggalkan luka di hati

Sejak saat itu
Ku buang rasa itu jauh di sudut hati
Membeku bersama luka

Dan tanpa kusadari
Masih ada sedikit bunga
yang kapanpun bisa mencair
Menjadi cinta yang mengusik hati


pic source: http://clipart-library.com/love-art.html
Baca buku emang bikin ada ide nulis ya,
walau kebanyakan tulisan galau
Bengkulu

[Ms.EXCEL] Mencari Tahu Cell Mengandung Satu Dari Beberapa Teks / Data

 Sekarang jam 20:47, dan aku masih berkutat dengan data yang perlu di-compare. Dan akan sangat melelahkan jika harus komparasi ribuan data satu per satu. Maka aku mencoba untuk mencari tahu, bagaimana mengetahui jika sebuah data pada cell di excel itu terdapat pada range data utama / data sumber. Dan ketemu deh panduannya di URL yang ada di bagian bawah post ini.

1. Kita siapkan sumber data utama yang akan jadi acuan untuk komparasi. Buat nama untuk array data tersebut dengan melakukan select pada data di excel, kemudian akses menu Formula > Define Name (ps: disini aku paka Ms. Office versi 16.18)


2. Akan muncul popup untuk memberi nama (kalau dalam bahasa pemrograman semacam nama variable) sumber data tersebut. Disini contohnya adalah data.


3. Baru deh, setelah itu kita pilih cell lain untuk menempatkan hasil komparasinya, dan ketikkan contoh sintaks seperti ini: 

=SUMPRODUCT(-- ISNUMBER(SEARCH(data; A2)))>0

dimana data adalah nama yang kita buat di point 2, dan A2 adalah cell yang akan kita komparasi.


4. Hasilnya akan seperti ini:


Sekian, semoga bermanfaat.

*lanjut komparasi data lagi :( 


Source:

https://exceljet.net/formula/cell-contains-one-of-many-things

https://exceljet.net/named-ranges

Admire You

I just can see you from far
When you're look happy, I just relieve and happy for you
When you're look sad, I cannot do anything and just hope you can bear with it

It is your personality that makes me admire you
It is your integrity that makes me admire you
It is your shyness that you cannot even telling about your feeling
and make me curious until it became an admiration for you

You simply acting unbothered
yet you're the one that aware of your surroundings

You're like my piano, cold but have a nice sound and relaxing
You're cold, and look not that easy to get along
But in fact, you're the one who have so much soft spot for others,
and that makes me admire you more

I just wanna say,
Thank you for being you...


pic from here


--
Inspired because of the song
i listen to lately.
It has a relaxing melody with piano in it.
~For You by BTS~

Bengkulu, 23:21

Tears

It's not because i cannot accept it, no.
I know very clearly that the day will come eventually.

But, the fact that you leave me this fast,
still makes me hurt and sad.
I just need more time to used to it.
I try my best to hold back my tear.

Now, since I realize that I cannot see you even if I really miss you,
It makes another pain.

It's been a while not seeing you in person Dad,
And still, that day, I cannot make it to see you, hug you, and hold your hands
just for the last time.
It really hurts me, and i cannot help it and just crying.


Daddy, I love you so much.
You're always be in my memory and my heart. 
❤️❤️❤️

#200618  
(In attempt to ease my heart because of this lost. Everything so fast)

Rasa Yang Belum Selesai [Sebuah Rasa: Episode 2]


Sejak di taksi dari rumah menuju bandara, aku sangat tak sabar ingin segera tiba di Jogja. Aku sudah menuliskan apa-apa saja yang akan aku lakukan selama seminggu aku di Jogja.

Taksi yang aku tumpangi tiba di bandara. Aku segera berjalan menuju ruang check-in. Rasanya setiap aku melangkah, memori selama di Jogja berputar-putar di kepala. Aku terus memandangi tiketku, sambil sesekali tersenyum.

Setelah mendapatkan tiket, aku menuju ruang tunggu bandara. Disana sudah cukup banyak penumpang. Kursi-kursi sudah hampir penuh disana. Aku memilih menunggu di salah satu tempat minum sambil membuka laptopku untuk menulis blog.

Sekitar satu jam kemudian, pengumuman boarding untuk tujuan pesawatku disuarakan lewat pengeras suara. Aku segera berkemas dan menuju antrian menuju pesawat.

"Kak, ini tujuan Jogja?" Wanita paruh baya menyapaku.

"Iya bu" Jawabku tersenyum.

Si Ibu segera membalikkan badan dan berbicara dengan rombongannya, dua bapak paruh baya, satu anak perempuan, dan satu pria yang masih muda. Aku terpaku sebentar menatap pria itu. Wajahnya mirip sekali dengan seseorang. Aku kembali mengamati dengan seksama, pria itu mengubah posisi berdirinya hingga aku bisa melihat dengan jelas wajahnya. Aku menghela nafas, syukurlah pria itu bukanlah dia.

Aku menunduk, memandangi tiketku, memandangi tulisan JOG disana. Memori bersama orang itu kembali berputar di kepalaku. Sesak memenuhi dada, apa kabarnya dia ya?


***

Like The Stars

Selalu ku bingung..
dalam gundah hati ini..
dalam sedih yang tak tau harus bagaimana..
titik air disudut mata, selalu memaksa keluar..

Dalam dingin..
Di gelapnya malam..
Ku tatap langit mendung..
Mencari satu bintang..
Berharap kan temaniku disini..

Ya, layaknya bintang,
yang selalu memperindah gelapnya malam dengan sinarnya..
Layaknya bintang,
yang selalu dijadikan acuan dikala tersesat..
Layaknya bintang,
yang tak pernah marah pada mendung yang menutupi sinarnya..

Dan hadirmu..
selayaknya bintang yang tersenyum malu disanding sang rembulan..


Yogyakarta, 5 desember 2012 01.25 am