Like The Stars

Selalu ku bingung..
dalam gundah hati ini..
dalam sedih yang tak tau harus bagaimana..
titik air disudut mata, selalu memaksa keluar..

Dalam dingin..
Di gelapnya malam..
Ku tatap langit mendung..
Mencari satu bintang..
Berharap kan temaniku disini..

Ya, layaknya bintang,
yang selalu memperindah gelapnya malam dengan sinarnya..
Layaknya bintang,
yang selalu dijadikan acuan dikala tersesat..
Layaknya bintang,
yang tak pernah marah pada mendung yang menutupi sinarnya..

Dan hadirmu..
selayaknya bintang yang tersenyum malu disanding sang rembulan..


Yogyakarta, 5 desember 2012 01.25 am

Semua Tentangmu

Tentangmu yang tak pernah ku duga,
Tentangmu yang membuat riuh hatiku,
Tentangmu yang selalu tersenyum penuh makna,
Dan tentangmu yang berdiri di sudut ruang itu,

Aku tau, kau merasakan yang sama,
Dan aku tau, kau tau perasaanku,
Hati kita terpaut,
Namun ego memisahkan kita.

Semua tentangmu akan tetap jadi kenangan,
kenangan indah yang tak terlupa.
Senang mengenalmu,
Tak ada sesal pernah bertemu denganmu.

Photo by Saad Chaudhry on Unsplash




Oh, laptop biruku,
yang ku beli 11 tahun lalu,
yang karena warnanya, aku jatuh hati,
yang menemani perjuangan menyelesaikan studi S1 dan S2,
kapan pulang dari service-an. (T~T)

Bengkulu, 5 Mar 2020, 23:30

Masihkah Kau Menjadi Bintangku


Rindu itu masih sama,
masih sama seperti saat kau tinggalkan dulu.
Tak pernah ada yang berubah.

Jalanan itu,
Lampu-lampu di tempat-tempat yang pernah kita singgahi,
Kursi itu,
Dan jam itu,

Detiknya terus berjalan,
Menapaki seluruh rinduku yang tak pernah lekang.
Seolah membantuku menyimpannya di setiap masa,
Hingga aku akan menemukan rindu yang sama di setiap memori.

Langit malam ini terhias syahdu,
Dengan bintangnya yang berpendar lembut.
Teringat ketika kau ucap jika kau adalah bintang yang selalu melihatku,
Kau adalah bintang yang akan berusaha menyinariku,
Namun kini, masihkah kau menjadi bintangku?



Kangen kuliaaah,
ngerjain tugas di cafe sampai malam.. :(

pic download from here

Bengkulu, 22:57 WIB

Mengingatmu



Tak pernah terpikirkan,
aku akan bersua dengannya.
Tak pernah ku duga,
aku akan sedekat ini dengannya.

Seorang yang ku anggap tak kan pernah ada,
Seorang yang ku anggap tak kan pernah bisa mewarnai hatiku,
Kini, ia di dekatku, di depanku.
Tersenyum menyapa sesiapa yang ia jumpa.

Aku sedekat ini dengannya,
namun rasanya masih jauh ku gapai.

Aku tak mampu berlari mendekat meraihmu,
namun aku pun tak sanggup untuk pergi menjauh darimu.
Aku tak mampu berusaha memiliki senyummu,
namun aku pun tak mau jika harus kehilangan bayangmu.

Aku terjebak dengan rasaku sendiri.
Tak mampu pergi kemanapun.

Ketika Zaman Segitu

TING

Notifikasi group whatsapp di ponselku berdenting. Pukul 21:12, kemungkinan dari group-group kerjaan jam segini sangaaaatlah kecil, jadi aku menunda meraih ponselku dan kembali dengan 'kesibukan'ku.

Pukul 21:53, setelah segala keriweuhan di rumah mereda, aku menyempatkan membuka ponsel, melihat dari group mana yang sedang ramai. Sebuah gambar dikirim ke whatsapp group dengan caption

rikolo zaman sakmono..


Salah satu temanku di group SMA Kelas IPA 3 mengirim gambar kami yang sedang berfoto di depan kelas.

artinya apa tuh phew?

Temanku yang lain merespon chatnya.

Ketika jaman segitu..

Yaah, Phew, bikin kangen ajh..

Yaah, ini gw yang motoin

jaman gw masih kurus itu *emo ketawa*

Denting Piano


"Jar, lebih suka lagu berlirik atau instrumental?" Tanya sahabatku suatu ketika.

"Hmmm, instrumental sih.." Jawabku

"Iih, kok sama, Enok juga lebih suka musik instrumental, alat musik apa yang enak didengerin?"

"Kalau Fajar sih sukanya piano, kalau Enok?"

"Enok suka suara biola Jar, sampai sempat pengen les biola.. " jawabnya bersemangat.

Aku hanya tersenyum melihatnya begitu bersemangat. Sahabatku ini selalu punya antusias kalau berhubungan dengan belajar hal-hal baru. Tidak sepertiku yang mengalir apa adanya. Dia wanita yang visioner, bahkan untuk seumuran kami yang baru kelas 2 SMA.

"Tapi Jar, kenapa kok suka sama piano?" tanyanya tiba-tiba.

Aku diam, kenapa ya? Entahlah...

Rasa Yang Tak Tersampaikan [Sebuah Rasa: Episode 1]



Ding

Suara lift yang aku tumpangi terbuka di depanku, aku dan teman-temanku yang sedang asyik mengobrol terdiam. Tepat di luar lift, ia berdiri, menunggu untuk masuk.

"Cieeeee" Sapa temanku yang dari dalam lift seraya keluar " bajunya kembaran nih warnanya sama Fanny" lanjutnya sambil menunjukku.

"Cieeee" dan seluruh temanku pun langsung berbarengan menggodaku dan dia.

"Double F nih, udah jadian aja sih"

Aku berusaha tidak salah tingkah, sedangkan ia bersama teman laki-laki yang lain, masih saja terus digoda.

Ya, dia Farrel, teman sekelasku kuliah. Baru beberapa bulan ini aku mulai dekat dengannya karena satu kelompok tugas kuliah.

Di antara teman laki-lakiku yang lain, dia yang paling muda, sedangkan di antara teman perempuanku yang lain, akulah yang paling muda. Sontak saja semua teman mulai menjodoh-jodohkan kami ketika kami mulai banyak berinteraksi untuk tugas kuliah.

Dan waktu siang, ketika makan siang bersama teman lain,

 "kamu punya baju warna apa lagi dek? Kita kembaran lagi aja" katanya ketika kami sedang berdua di meja.

Aku hanya tertawa sambil juga menahan debaran jantungku.

Hari demi hari, aku semakin dekat dengannya. Karena nama kami berdekatan di presensi, peluang kami satu kelompok sangat besar. Sepertinya aku mulai suka padanya. Dan aku merasa dia pun merasakan yang sama. Aaah, sudahlah aku gak mau geer.