Masihkah Kau Menjadi Bintangku


Rindu itu masih sama,
masih sama seperti saat kau tinggalkan dulu.
Tak pernah ada yang berubah.

Jalanan itu,
Lampu-lampu di tempat-tempat yang pernah kita singgahi,
Kursi itu,
Dan jam itu,

Detiknya terus berjalan,
Menapaki seluruh rinduku yang tak pernah lekang.
Seolah membantuku menyimpannya di setiap masa,
Hingga aku akan menemukan rindu yang sama di setiap memori.

Langit malam ini terhias syahdu,
Dengan bintangnya yang berpendar lembut.
Teringat ketika kau ucap jika kau adalah bintang yang selalu melihatku,
Kau adalah bintang yang akan berusaha menyinariku,
Namun kini, masihkah kau menjadi bintangku?



Kangen kuliaaah,
ngerjain tugas di cafe sampai malam.. :(

pic download from here

Bengkulu, 22:57 WIB

Mengingatmu



Tak pernah terpikirkan,
aku akan bersua dengannya.
Tak pernah ku duga,
aku akan sedekat ini dengannya.

Seorang yang ku anggap tak kan pernah ada,
Seorang yang ku anggap tak kan pernah bisa mewarnai hatiku,
Kini, ia di dekatku, di depanku.
Tersenyum menyapa sesiapa yang ia jumpa.

Aku sedekat ini dengannya,
namun rasanya masih jauh ku gapai.

Aku tak mampu berlari mendekat meraihmu,
namun aku pun tak sanggup untuk pergi menjauh darimu.
Aku tak mampu berusaha memiliki senyummu,
namun aku pun tak mau jika harus kehilangan bayangmu.

Aku terjebak dengan rasaku sendiri.
Tak mampu pergi kemanapun.

Ketika Zaman Segitu

TING

Notifikasi group whatsapp di ponselku berdenting. Pukul 21:12, kemungkinan dari group-group kerjaan jam segini sangaaaatlah kecil, jadi aku menunda meraih ponselku dan kembali dengan 'kesibukan'ku.

Pukul 21:53, setelah segala keriweuhan di rumah mereda, aku menyempatkan membuka ponsel, melihat dari group mana yang sedang ramai. Sebuah gambar dikirim ke whatsapp group dengan caption

rikolo zaman sakmono..


Salah satu temanku di group SMA Kelas IPA 3 mengirim gambar kami yang sedang berfoto di depan kelas.

artinya apa tuh phew?

Temanku yang lain merespon chatnya.

Ketika jaman segitu..

Yaah, Phew, bikin kangen ajh..

Yaah, ini gw yang motoin

jaman gw masih kurus itu *emo ketawa*

Denting Piano


"Jar, lebih suka lagu berlirik atau instrumental?" Tanya sahabatku suatu ketika.

"Hmmm, instrumental sih.." Jawabku

"Iih, kok sama, Enok juga lebih suka musik instrumental, alat musik apa yang enak didengerin?"

"Kalau Fajar sih sukanya piano, kalau Enok?"

"Enok suka suara biola Jar, sampai sempat pengen les biola.. " jawabnya bersemangat.

Aku hanya tersenyum melihatnya begitu bersemangat. Sahabatku ini selalu punya antusias kalau berhubungan dengan belajar hal-hal baru. Tidak sepertiku yang mengalir apa adanya. Dia wanita yang visioner, bahkan untuk seumuran kami yang baru kelas 2 SMA.

"Tapi Jar, kenapa kok suka sama piano?" tanyanya tiba-tiba.

Aku diam, kenapa ya? Entahlah...

Rasa Yang Tak Tersampaikan



Ding

Suara lift yang aku tumpangi terbuka di depanku, aku dan teman-temanku yang sedang asyik mengobrol terdiam. Tepat di luar lift, ia berdiri, menunggu untuk masuk.

"Cieeeee" Sapa temanku yang dari dalam lift seraya keluar " bajunya kembaran nih warnanya sama Fanny" lanjutnya sambil menunjukku.

"Cieeee" dan seluruh temanku pun langsung berbarengan menggodaku dan dia.

"Double F nih, udah jadian aja sih"

Aku berusaha tidak salah tingkah, sedangkan ia bersama teman laki-laki yang lain, masih saja terus digoda.

Ya, dia Farrel, teman sekelasku kuliah. Baru beberapa bulan ini aku mulai dekat dengannya karena satu kelompok tugas kuliah.

Di antara teman laki-lakiku yang lain, dia yang paling muda, sedangkan di antara teman perempuanku yang lain, akulah yang paling muda. Sontak saja semua teman mulai menjodoh-jodohkan kami ketika kami mulai banyak berinteraksi untuk tugas kuliah.

Dan waktu siang, ketika makan siang bersama teman lain,

 "kamu punya baju warna apa lagi dek? Kita kembaran lagi aja" katanya ketika kami sedang berdua di meja.

Aku hanya tertawa sambil juga menahan debaran jantungku.

Hari demi hari, aku semakin dekat dengannya. Karena nama kami berdekatan di presensi, peluang kami satu kelompok sangat besar. Sepertinya aku mulai suka padanya. Dan aku merasa dia pun merasakan yang sama. Aaah, sudahlah aku gak mau geer.


Ndeso

download from Pinterest.com

Menghabiskan masa kecil di kota besar tidak membuatku seperti "anak kota". Dengan mall bertebaran dimana-mana dan teman-teman yang gahol abis tidak juga membuatku jadi "anak kota".

Keseharianku zaman dulu cuma sebatas, rumah - sekolah - rumah teman buat ngerjain PR - rumah - sekolah, gituuuuu terus. Belum lagi kalau ekskul yang aku ikuti lagi banyak-banyaknya lomba, kadang sampai nginap-nginap di sekolah. Sekalinya libur buat cuci sepatu baju dan istirahat baca komik.

Ke mall masa' gak pernah?

Halo 2019

from Pinterest.com

Yak, postingan yang telatnya pake banget, pemilik blognya lagi sok sibuk soalnya. :D
Semoga tahun ini bisa konsisten nulis blog ya, baik yang berfaedah ataupun un-faedah, haha.

Sudah buat resolusi 2019 kan?

Semoga resolusi kita bisa tercapai semua tahun ini, selalu diberikan kesehatan dan semakin menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

S.E.M.A.N.G.A.T.!