Tuesday, October 30, 2012

Uhibbuki Fillah, Girls...

Sepertinya sudah banyak sekali artikel tentang kita yang menghiasi blog ini, dan aku tak pernah bosan untuk membahasnya. Kalian yang membawa titik perubahanku. Tak dipungkiri, kadang aku masih merasa sendiri walau saat itu kita sedang berkumpul, tak dipungkiri, kita pernah merasakan pertengkaran-pertengkaran kecil, kita pernah menangis bersama saat curhat sama abang angkatan, kita pernah tertawa bersama saat kita merayakan ulang tahun bersama.

Hmm, rasanya tak rela pasir waktu terus bergulir, merentangkan jarak antara kita yang sedang meniti jalan hidup masing-masing, karena canda tawa kita masih terngiang di telinga. Maka izinkan ku mengutip satu lirik lagu, yang tepat menggambarkan perasaan rinduku akan kebersamaan kita, menyemarakkan kota Yogyakarta ini...

Friday, October 26, 2012

Kriteria Seorang Muadzin

Ini postingan dadakan, karena ketidaknyamananku yang sering kali mendengar adzan (atau takbir malam ini, karena besok idul adha) gak indah di telinga.
aarrgghh... \(" )/ #acak-acak-jilbab (dirapikan lagi kok, hehe)

Ya, kadang ada adzan yang tidak dilafalkan dengan baik, kadang ada pula adzan yang tidak dilantunkan dengan merdu (hampir sebagian besar sepertinya). Dan yang parah, aku pernah dengar muadzinnya melantunkan adzannya dengan keras, ya hanya dengan keras tidak diajak merdunya (mendengarnya serasa kaya diteriakin maling, #sedih). Dan kesemuanya membuat telingaku gatal mendengarnya (#cuma bisa menghela nafas.

Rasulullah memang menganjurkan muadzin bersuara lantang, agar semua makhluk mendengar adzannya, tapi memilih muadzin itu lebih diutamakan yg bersuara merdu, itulah alasan Rasulullah Salallahu 'alaihi wasallam memilih Bilal. Jadi kenapa kita tidak memilih muadzin yang bersuara merdu untuk mengumandangkan adzan di masjid kita?

Berikut ini adalah kriteria muadzin yang ku dapat dari artikel yang kucari malam ini:

Wednesday, October 24, 2012

Another Headache [Context Free Grammar]

"Kita bagaikan sebuah Agent yang membutuhkan production rule dan knowledge based untuk menyelesaikan grammar hidup kita"
~ by DFNR (halah :D) ~


Ya..ya..ya... minggu ini aku sedang galau UTS. Gak cuma aku, tapi satu kelas, haha. Yah, selama ujian ini, kami sempatkanlah belajar bareng, sharing-sharing apa yang dipahami. Dan sampailah kami pada yang namanya Context Free Grammar (CFG) #aarrgghhh (ʃ_⌣̀ )/||. Di artificial intelligent ada, di Teori Bahasa Otomata juga ada #sip. CFG ini, kalau di AI, bagian dari penjelasan Natural Language Processing.
Lalu sebenarnya, apa sih Context Free Grammar?

Context Free Grammar memiliki 4 komponen penting, yaitu:

Wednesday, October 17, 2012

Trust Me, This Makes Me Headache [TBO]

Ya, judulnya agak lebay sih, emang, hehe..

Yang aku bahas kali ini adalah salah satu tugas Teori Bahasa Otomata, yang lebih tepatnya membahas masalah Ekspresi Reguler.

Oke langsung saja:

Diketahui dua buah mesin DFA seperti di bawah ini:


Jika L1 dan L2 berturut - turut adalah bahasa yang dihasilkan oleh mesin M1 dan M2, berikan DFA yang menerima bahasa:
1. L1  L2  (union)
2. L1 ∩ L2  (intersection)

Maka, jawabanku adalah ini:

Wednesday, October 10, 2012

Ikhlas, Menyemai Sabar Menebar Syukur

"gue gak mau lupain dia jar.."

"lah, emang kenapa? dia kan udah berkeluarga Bang.." kataku bingung

"pokoknya gak mau, orang sampe kemarin aja gue ngerasa dia masih milik gue..."

"emang kenapa gak mau lupain dia bang, toh lo tetep gak bisa dapetin dia.."

"sayang untuk dilupakan jar... banyak kenangannya..."

Jiaah, aku jadi ingat lagu zaman dulu. Aku hanya bisa menghela nafas baca curhatnya temenku. Ya, mungkin aku yang tak tau apa yang dirasakannya.