Friday, May 20, 2016

Agasa dan Zee: Rasa Itu Mengalir Deras

"Aku duluan ya mas.." Zee berpamitan pada Agasa

"Iya.." Jawab Aga, sambil terus memperhatikan Zee hingga ia menghilang di balik koridor

BUK

Satu pukulan mendarat mantap di tubuh Agasa. Agasa segera berpaling.

"Apa sih bang Re, baru ketemu malah mukul.." protes Agasa. Ia hanya membalas dengan tertawa

"Habis serius banget ngelihatnya, lihat apa sih?" tanya Resa sambil melihat ke arah koridor

"Bukan apa-apa bang..by the way, ini kan masih hari rabu, kok bang Re ada di kampus sini?"

"Jumat dan sabtu besok aku gak bisa, makanya aku pindahkan full di hari ini.."

"Ooh..."

"Ngomong-ngomong, udah dapat calon belum?"

"gak ada bahasan lain ya bang? pasti mau nawarin akhwat lain lagi deh.."

"Tapi ini terpercaya Ga, abang setuju banget sama yang ini..yaah, kecuali kalau ente sudah punya akhwat idaman sendiri"

Agasa terdiam.

"Eh, seriusan ente punya yang disuka? siapa?"

***


"Zee..Kok lama banget tadi, habis dari mana sih?" Tanya Rika, sahabatnya yang modis itu.

Zee hanya tertawa sambil melipat mukena-nya.

"Habis ini kita mau kemana?" Tanya Rika

"Pulang aja yuk, suamiku sebentar lagi pulang.." jawab Nisa

"Aku juga mau pulang, baju dan sepatuku basah semua, gak enak rasanya.." jawab Zee

"Yaaah, ya sudah deh.. nanti kita telponan lagi ya.."

Mereka bertiga pun berpelukan dan saling melambaikan tangan. Zee menunggu hingga Rika dan Nisa keluar dari parkiran kampus, seraya menghampiri motornya sendiri. Ia kembali menatap jauh ke arah kampus. Tak dipungkiri, Zee berlama-lama mengeluarkan motornya berharap bisa berpapasan lagi dengan Agasa. Namun akhirnya ia urungkan niatnya dan segera mengeluarakan motornya. Mas Aga sudah pulang belum ya?

***

"Ga, masih ada ngajar lagi setelah ini?" Tanya Resa ketika mereka berdua selesai sholat di ruang dosen

"Gak ada bang, kayanya mau pulang aja nih, mumpung hujannya reda" Kata Agasa sambil membereskan meja kerjanya

"Ngapain sih buru-buru.." tanya Resa yang sudah berada di depan mejanya "Jangan-jangan.... akhwat idamanmu lagi ada di kampus juga ya?"

Agasa melambatkan aktivitas beres-beresnya. Ia akhirnya tersadar, alasan tergesa-gesanya ia supaya bisa berpapasan lagi dengan Zee.

"Bener ya Ga? Siapa sih? mahasiswa ente?"

"Bukan mahasiswaku bang.."

"Terus?"

"Dulu adik tingkat.."

"Emang ngajar disini juga?"

"Itu dia yang aku gak tau bang, kayanya gak ada namanya dalam daftar dosen di kampus.."

"Hoo..gitu..tapi..kalau emang suka, kenapa gak langsung ke rumahnya aja sih..udah siap kan ente?"

"Aku gak tau rumahnya bang, kayanya bukan orang sini.."

"Ya lewat murobbi, atau orang yang memang kenal dia.."

"Itu dia masalahnya bang, orang-orang yang aku kenal gak ada yang tau tentang dia.."

"Misterius banget... ya udah, sama akhwat yang mau abang kenalin aja.."

"halah, abang kan belum nikah juga, paling-paling udah di-embat duluan sebelum biodatanya sampai ke aku.."

Resa hanya tertawa keras.

"Kemarin-kemarin yang nyarikan biodata akhwat buat ente itu bukan ane, tapi Pak Saleh, murobbi ane, kenal kan? Lagian juga, bentar lagi ane mau lamaran Ga.."

Agasa tersedak terbatuk-batuk mendengar kalimat terakhir Resa.

"Abang serius?" tanyanya sambil melap tumpahan kopi di atas meja kerjanya

"Emang abang kelihatan gak serius?"

"Gak" jawab Agasa singkat

BLETAK

"Iya..iya.. jadi kapan lamarannya?" tanya Agasa sambil mengelus kepalanya

"Sabtu ini, makanya abang bilang tadi gak bisa ngajar hari jumat dan sabtu, buat persiapan itu.. Ente bisa ke rumah kan Ga?"

"Ngapain bang?"

"Yaaah, bantu-bantu gitu, atau minimal nemenin abang, abang agak grogi sebenarnya.."

Agasa tertawa.

***

Malamnya.

"Zee, ayo makan dulu..." teriak suara seorang wanita

"Iya tante..."

Zee masih memperhatikan layar ponselnya. Ia baru saja selesai telponan dengan kedua sahabatnya. Namun kejadian sore tadi sudah menyita hampir seluruh perhatiannya. Zee baru tersadar kalau di ponselnya sama sekali tidak menyimpan nomor Agasa. Mau bertanya ke teman yang lain takut mereka mengira macam-macam. Yaah, walau perkiraan mereka bisa dipastikan benar. Zee hanya mampu menghela nafas seraya menghempaskan ponselnya ke kasur, rasa yang sudah lama terpendam itu tiba-tiba saja muncul kembali dan mengusik ketenangan hati.

Sementara itu. Di parkiran kampus.

"Jumat malam ya Ga, nginap di rumah.." tanya Resa sebelum ia masuk ke dalam mobil

"Beneran gak apa nih bang? kan pasti rame.." tanya Agasa seraya mengenakan jaketnya

"Gak rame-rame banget kok, kan baru lamaran.. sekalian bantuin jadi supir abang, abang grogi nyetir sendiri, ayah udah ga sanggup lagi.."

"Kan ada fadli.."

"Fadli bakalan jadi supir juga, di mobil satunya, punya Om.."

"Oke deh kalau gitu.."

Keduanya saling mengucapkan salam sebelum berpisah. Agasa segera melajukan motornya ke rumah. Pikirannya sedari tadi masih dipenuhi dengan percakapan singkat dengan Zee.

"Hai apa kabar?" tanya Agasa saat itu

"baik, mas apa kabar?" tanya Zee

"Alhamdulillah baik" Jawabnya. Zee tersenyum, benar-benar mencairkan rasa yang sudah lama beku

"Mas jadi dosen disini ya..?" tanya Zee ketika melihat buku-buku yang di pegang Agasa

"Haha.. iya nih..kau sedang apa disini?"

Tepat ketika Zee ingin menjawab, ponsel miliknya berdering. Rika sahabatnya menelepon, menanyakan keberadaannya dan memintanya segera menyusul. Zee hanya menjawab Iya di sepanjang percakapan telepon itu. Dan ketika sudah selesai, dengan terpaksa ia menyudahi percakapannya dengan Agasa dan berpamitan dengannya. Padahal banyak sekali yang ingin ia tanyakan, termasuk salah satunya adalah 'Apakah mas udah menikah?'.

***

Jumatnya.

"Aga, sore ini abang jemput ke rumah ya.. kebetulan abang lagi pergi sama mama dan ayah cari cincin.." Ujar Resa di seberang telepon

Agasa melihat jam tangannya. Pukul 2.20 siang.

"Apa gak ane aja yang kesana sendiri bang?"

"Yakin mau kesana sendiri? aku sama mama ayah lagi diluar, belum tau kapan tepatnya sampai rumah..fadli juga ada acara di kampusnya sampai malam.."

Yaah, akhirnya Agasa menerima alasan itu. Daripada disuruh nunggu diluar rumah entah sampai kapan, mending nunggu dijemput aja deh, sudah pasti gak sendirian. Pikir Agasa.

"Ya udah deh.." Ujar Agasa akhirnya

Sementara itu, di sebuah rumah, di ruang tamu, Zee merebahkan tubuh sambil terus-menerus memegang kepalanya, rasanya pusing sekali. Ia mulai merasakan lidahnya pahit tak enak. Suhu tubuhnya lambat laun meningkat.

Aku kenapa ya? Pikir Zee.

"Ke dokter aja yuk Zee, badanmu makin panas aja nih.." Tante Erna tiba-tiba saja muncul di ruang tamu

"Tante bikin kaget aja deh.."

"Ke dokter ya, mumpung masih agak siang nih.."

"Habis ashar aja ya Tan.." Zee melihat jam tangannya. Pukul 2.50 siang "Sebentar lagi ashar nih.."

Dan Zee menepati janjinya, ia mau diajak ke dokter setelah ashar. Kasian juga sejak pagi tante Erna sudah memintanya ke puskesmas, namun Zee bersikeras berkata 'nanti sembuh sendiri kok Tan'.

**

"Jadi Nak Aga, kapan nyusul Resa nikah?" tanya mama Resa ketika mereka semua sudah di mobil. Resa tertawa senang karena pertanyaan mamanya dan itu sungguh mengesalkan bagi Agasa.

"Hehe, belum ada calonnya Tante, doakan semoga segera menyusul.."

"Lho, bukannya Resa sudah nawari.."

"Aga punya gadis yang dia suka Mam, mau dipaksa gimana juga susah, nunggu orangnya aja yang minta ke Resa deh Mam.." potong Resa seraya melirik ke arah Agasa yang duduk di sampingnya.

"Yah, semoga disegerakan ya Nak Aga, biar gak diejekin terus sama Resa.." ujar mama Resa seraya tertawa

"hahaha.. iya Tante, aamiin.."

Pukul 17.45 mereka sampai di rumah Resa. Lampu-lampu rumah masih belum menyala, yaah, wajar karena tak ada seorang pun di rumah.

"Pada kemana ya..?" tanya mama Resa setelah membuka pintu depan rumah dan menyalakan lampu.

"Iya, kok gak ada orang sih..?" ujar Resa ketika melihat mama dan ayahnya masuk ke dalam.

"Nak Aga, kalau mau minum atau apa, ambil sendiri ya..maklum ya kalau berantakan begini.." teriak mama Resa dari balik tangga

"Iya tante.." jawab Aga seraya melepas jaketnya "Emang ada siapa aja di rumah Bang?"

Belum lagi ia mendengar jawaban Resa, satu bayang di depan pintu rumah Resa mengejutkannya. Agasa hanya terdiam mematung, seketika jantungnya mulai berdebar tidak karuan. Zee.

Zee yang saat itu dipapah oleh Tante Erna pun menghentikan langkahnya ketika melihat Agasa di ruang tamu. Ngapain mas Aga disini?

"Zee kenapa Tan?" pertanyaan Resa membuyarkan semua pertanyaan Agasa. Ia melihat Resa menghampiri Zee dan menggantikan tantenya memapah Zee.

"Demam Sa, tadi tante sama Om periksakan Zee ke dokter" Resa segera memegang kening Zee "Kata dokter karena kelelahan, cuma butuh istirahat aja.."

"Kan? apa ku bilang.." omel Resa pada Zee

"Udah deh bang, jangan ngomel kaya mama deh.." ujar Zee

"Ga, bentar ya, abang antar anak ini ke kamarnya dulu.." kata Resa

Zee menatap ke arah Agasa. Kaget, bingung, tapi juga senang bercampur baur di dalam pikiran Zee. Ia hanya tak pernah tau kalau Agasa kenal dengan abang sepupunya itu.

"Maaf ya Ga..abang tinggal tadi.." Kata Resa ketika ia sudah kembali ke ruang tamu. Ia menghempaskan tubuhnya ke sofa.

"Yang tadi itu siapa bang?" tanya Agasa berusaha bertanya dengan nada biasa

"Oh, itu Zee, sepupu abang.. mamanya Zee itu adik kandungnya ayah.." kata Resa seraya melihat jam di tangannya.

"oooh..." Terdengar bergetar nada suara Agasa

"Nah, akhwat ya abang maksud kemarin itu ya si Zee itu.. yaa, karena abang udah kenal sama ente, makanya abang berani jodohin.. tapi..." perkataan Resa terhenti "ente kenapa sih Ga? sakit juga?" tanya Resa yang mulai melihat semburat merah di wajah Agasa.

Malamnya, di kamar Resa, Resa hanya tertawa setelah akhirnya mendengar seluruh cerita dari Agasa. Resa hanya tak habis pikir, tapi memang mungkin inilah jalannya.

"Zee waktu semester-semester awal memang tinggal bersama kami disini, tapi kemudian memilih kost saja.. Dan waktu kau sering menginap disini nyelesaikan skripsimu, Zee sudah nge-kost.." jelas Resa.

Agasa hanya diam tertunduk. Kini malah ia yang grogi. Berada satu rumah begini, membuatnya semakin tak berani melangkah keluar dari kamar Resa. Ia takut, alasannya keluar kamar nanti adalah untuk melihat Zee.

"Jadi, kapan gantian mau ngelamar Zee?" Pertanyaan Resa ini membuat Agasa semakin salah tingkah.

"Tapi.. kan belum tentu juga dia mau bang.." jawab Agasa terbata.

"Apa perlu abang bawa Zee kesini.."

"Janganlah bang, gak baik.. ada yang bukan mahromnya disini kan.." tukas Agasa

"Tapi kan bentar lagi bakalan jadi mahromnya... cieee..." ledek Resa seraya memukul Agasa

Agasa hanya memandang kesal kakak tingkatnya itu yang sudah mulai asyik dengan ponselnya. Kembali, Agasa hanya menghela nafas seraya menatap pintu kamar Resa. Entahlah, ia jadi berpikiran jauh ke depan yang kemudian ia tepis dengan memilih tidur.

Zee pun merasakan hal yang sama. Ia hanya berpikir sejak kapan Agasa berteman dengan Abangnya. Sesaat setelah pertemuannya dengan Agasa di ruang tamu itu, ia segera menelepon kedua sahabatnya, dan lagi-lagi Rika membuatnya semakin gak karuan.

"Jangan-jangan dia sudah tau tentangmu dari abangmu itu sejak lama..atau bahkan dia sudah tau kalau kamu sempat suka sama dia Zee.." katanya di telepon saat itu.

Zee berulang kali mengingat, pernahkah ia kelepasan bicara tentang Agasa pada Resa, tapi sudah ia pastikan tak pernah membicarakan hal-hal semacam itu pada abangnya.

Aargh, Zee hanya berguling-guling saja di kasurnya. Sakitnya jadi tidak segera membaik kalau seperti ini.

***

Esoknya. Acara lamaran pun berjalan lancar, dan sudah ditetapkan tanggal pernikahannya adalah dua bulan lagi. Sepulang dari rumah calon istri Resa, mereka menyempatkan mampir makan siang bersama di sebuah resto. Ketika mereka berangkat, Ayah dan Mama Resa, Resa dan Agasa berada dalam satu mobil. Sedangkan Fadli, Tante Erna, Om Farel dan Zee berada di mobil satunya. Namun ketika mereka pulang, Ayah dan Mama Resa memilih ikut mobil om Farel, sehingga akhirnya Resa yang mengemudikan mobil satunya dengan Fadli, Agasa dan Zee.

Zee duduk terdiam saja di kursi depan. Begitu pun Agasa yang duduk di belakang Resa, memilih memandang keluar jendela atau mainan game di ponselnya. Ya, mereka berdua sama-sama grogi.

"Sepi banget sih mobil ini ya dek..?" tanya Resa pada Fadli. Fadli yang baru saja ingin memejamkan mata melihat ke arah abangnya.

"Putar musiklah bang.." jawabnya

"Biasanya ada yang suka cerewet kalau abang yang bawa mobil.." Katanya lagi sambil melirik Zee. Zee hanya terdiam. Resa pun menyerah, dan memilih memutar musik. Agasa menyempatkan diri melihat ke arah Zee, ia duduk terdiam disana sambil memandang ke arah jendela.

Setelah makan siang, Tante Erna, Om Farel, ayah dan mama Resa memilih pulang ke rumah lebih dulu, sementara Resa diminta untuk mengunjungi rumah Om-nya yang lain untuk mengabari langsung tentang pernikahannya. Rumahnya cukup jauh, dan merupakan jalan-jalan macet.

"Haaah, kalau kaya gini, sampai rumah bisa waktu isya.." Kata Resa kesal

***

Di sebuah parkir masjid, Zee menanti berdiri sambil bersandar di mobil. Zee pikir ia yang akan paling lama selesai sholat maghrib, tapi ternyata malah para pria itu yang lama.

Kunci mobil ada di Fadli lagi. Katanya dalam hati.

Zee hanya menunduk sambil memain-mainkan rumput-rumput di bawah kakinya, sampai aktifitasnya terhenti ketika suara langkah kaki mendekat. Zee mengangkat kepalanya dan menatap Agasa tepat di depannya.

"Lho? yang lain belum sampai?" Tanya Agasa heran. Zee hanya menggeleng dan kembali bersandar di mobil. Ia kembali memain-mainkan rumput-rumput di bawah kakinya untuk menghilangkan salah tingkahnya. Dari sudut matanya, Zee bisa melihat langkah kaki Agasa mendekat ke arahnya.

Duuh.

"Nih.." Tiba-tiba Agasa mengulurkan jaketnya ke arah Zee. Zee mengangkat kepalanya. "Kau dingin kan? daritadi ku lihat kau berusaha menutup telapak tanganmu ke bawah lengan bajumu.."

Zee mengulurkan tanggannya "Makasih.." katanya seraya memakai jaket yang diberikan Agasa.

Jadi ini wanginya Mas Aga, Haduuuh, apa yang ku pikirkan sih... Katanya dalam hati.

Entah kenapa, ia malah semakin berdebar, seolah merasa Agasa berada dekat dengannya. Ia menatap ke arah Agasa yang sedari tadi mengetik di ponselnya.

Mas, panggilnya dalam hati.

Namun tak di sangka, Agasa benar-benar mengalihkan pandangannya ke arah Zee.

"Kau baik-baik aja kan?" tanya Agasa khawatir, yang rasanya ingin sekali memegang kening Zee.

"Iya.." jawab Zee. Agasa kembali mengantongi ponselnya.

"Duduk di situ yuk.." kata Agasa sambil menunjuk kursi panjang di dekat parkiran "Mereka bakalan lama, lagi antri beli martabak katanya.."

Zee mengikutinya dari belakang. Mereka terdiam, sama-sama tidak tau harus memulai percakapan dari mana.

"Aku gak nyangka kalau mas Aga temannya bang Resa" kata Zee akhirnya. Agasa menatapnya.

"Aku pun baru tau kemarin kalau kau adik sepupunya Bang Re.." Kata Agasa seraya tertawa kecil. Perasaan Zee semakin meluap.

"Sejak kapan kenal bang Resa?"

"Aku ketemu Bang Re waktu sering bantuin pelatihan-pelatihan dulu, waktu baru-baru jadi pengurus. Bang Re itu juga yang bantuin skripsiku.."

"Pasti jahil ya orangnya..?"

"Haha, yaah, sedikit.. dulu sering usil jodohin-jodohin sama akhwat-akhwat yang dia kenal.." kata Agasa. Zee diam, ada rasa sakit di hatinya.

"Ooh.." hanya itu yang keluar dari mulut Zee. Pasti sudah ada calonnya. Pikir Zee.

"Bahkan kemarin ketemu di kampus pun masih berusaha menjodohkanku dengan akhwat pilihannya.."

Sudah jangan cerita lagi, aku gak mau dengar. Teriak Zee dalam hati.

"Tapi untuk yang ini, sepertinya aku juga mau.." lanjutnya lagi

Sudah! cukup! Zee meremas tangannya sendiri, enggan mengalihkan pandangannya ke arah Agasa. Matanya sudah mulai berair.

"Karena akhwatnya itu kamu.." Katanya lagi seraya memukul pelan kepala Zee.

Zee mengangkat kepalanya, menatap Agasa. Kaget dengan apa yang ia dengar. Agasa hanya tersenyum menatapnya.

"Oooh, jadi gini... kemarin nolak dijodohin, gak taunya malah melancarkan serangan sendiri.." Suara Resa tiba-tiba saja seperti berdengung di telinga mereka berdua.

"Bang Resa..!" kata mereka bersamaan. Kaget karena Resa sudah berada di belakang mereka dengan membawa bungkusan.

Resa masih berpura-pura cemberut.

"Cieee.. kak Aga.. jadi bener ya, kak Aga memang suka sama kak Zee.. aku kira Bang Resa lagi bercanda.." tukas Fadli

"Bang Re bilang ke kamu?" tanya Agasa gak enak.

"Iya, bang Re juga bilang sama mama dan ayah, bahkan sudah bilang juga sama tante mirna, mamanya kak Zee.." dengan polosnya Fadli menjelaskan.

Sontak saja, Agasa merasa wajahnya panas, dan memandang ke arah Resa yang sudah memasang wajah usilnya itu.

Kalau saja gak di tempat umum begini, ia sudah aku tinju. Pikir Agasa.

Agasa dan Zee saling menatap, yang kemudian saling memalingkan wajah, menyembunyikan senyum bahagia mereka. Dan sungguh, perasaan mereka semakin meluap tak terbendung.

Harus segera dilamar kalau kaya gini ceritanya. Ucap Agasa dalam hati.

(Sementara itu, Fadli dan Resa masih kompak terus-terusan menggoda mereka)

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca....^^