Rasa Yang Belum Selesai [Sebuah Rasa: Episode 2]


Sejak di taksi dari rumah menuju bandara, aku sangat tak sabar ingin segera tiba di Jogja. Aku sudah menuliskan apa-apa saja yang akan aku lakukan selama seminggu aku di Jogja.

Taksi yang aku tumpangi tiba di bandara. Aku segera berjalan menuju ruang check-in. Rasanya setiap aku melangkah, memori selama di Jogja berputar-putar di kepala. Aku terus memandangi tiketku, sambil sesekali tersenyum.

Setelah mendapatkan tiket, aku menuju ruang tunggu bandara. Disana sudah cukup banyak penumpang. Kursi-kursi sudah hampir penuh disana. Aku memilih menunggu di salah satu tempat minum sambil membuka laptopku untuk menulis blog.

Sekitar satu jam kemudian, pengumuman boarding untuk tujuan pesawatku disuarakan lewat pengeras suara. Aku segera berkemas dan menuju antrian menuju pesawat.

"Kak, ini tujuan Jogja?" Wanita paruh baya menyapaku.

"Iya bu" Jawabku tersenyum.

Si Ibu segera membalikkan badan dan berbicara dengan rombongannya, dua bapak paruh baya, satu anak perempuan, dan satu pria yang masih muda. Aku terpaku sebentar menatap pria itu. Wajahnya mirip sekali dengan seseorang. Aku kembali mengamati dengan seksama, pria itu mengubah posisi berdirinya hingga aku bisa melihat dengan jelas wajahnya. Aku menghela nafas, syukurlah pria itu bukanlah dia.

Aku menunduk, memandangi tiketku, memandangi tulisan JOG disana. Memori bersama orang itu kembali berputar di kepalaku. Sesak memenuhi dada, apa kabarnya dia ya?


***

[Ding dong ding dong]

Irama informasi dari pengeras suara bandara sudah terdengar, mengumumkan kedatangan pesawat yang aku naiki. Aku sudah berjalan keluar ruang tunggu. 6 Tahun sudah aku tak menjejakkan kaki di sini. Aku berhenti dan menghirup udara kota ini, berharap mengobati segala rindu dengan kota ini.

Aku langsung menuju tempat pemesanan taksi. Menunggu beberapa saat sampai aku akhirnya menaiki mobil yang akan mengantarkanku ke hotel tempatku menginap. Ya, aku ditugaskan kembali ke kota ini setelah aku kembali ke kampung halaman tak lama setelah aku menyelesaikan studi S2 ku. Aku bersandar ke jendela, menatap keluar sambil mengenang segala yang ku alami disini, aku hanya tersenyum.

"Mbak, sudah sampai nggih, bener hotelnya yang ini?" tanya supir taksi.

"Oh,nggih pak,matur suwun" kataku seraya turun dari taksi. Supir taksi membantuku mengeluarkan koperku dari mobil, yang kemudian pamit dengan mengangguk. Aku membalasnya dengan anggukan.

Aku melihat ke arah hotel. Oke, seminggu disini, aku harus bikin plan selain hanya ngurusin kerjaan.

Aku melangkahkan kaki menuju lobby hotel.

"Selamat Malam Ibu, ada yang bisa dibantu?"

"Malam mbak, booking atas nama Fanny via Travelia" Kataku padanya


"Baik sebentar" katanya seraya mengecek komputer "Ibu Fanny Amanda Putri ya?"

"Iya mbak"

"Baik, bisa dibantu identitasnya Bu?"

Aku memberikannya kartu identitasku. Sambil menunggu aku mengamati keluar jendela lobby, masih tak percaya kalau aku kembali kesini.

"Sudah Ibu, silakan kamar 802 di lantai 8 ya Bu. Liftnya ada di sebelah sana. Ada yang bisa dibantu lagi Bu?"

"Nggak ada, makasih ya mbak" jawabku

"Iya Ibu, Selamat beristirahat"

Sesampainya di kamar, aku menaruh koperku sembarangan, seraya merebahkan tubuh untuk menghilangkan penat. Pukul 20:34, aku belum makan malam. Dengan sekuat tenaga aku bangun dan memaksakan diri untuk keluar lagi membeli makanan ringan.

Setelah berjalan beberapa meter, aku memutuskan membeli mie instan cup di salah satu minimarket. Yah, daripada gak makan sama sekali. Setelah memilah kudapan dan mie instan, aku segera keluar, mendorong pintu kaca dengan tubuhku karena kedua tanganku sudah penuh memegang kantong belanjaan. Baru selangkah berjalan, aku melihat sosok yang ku kenal.

[Deg]

Helm biru, jaket kulit hitam, tas hitam, dan sedang memainkan ponselnya di atas motor maticnya. Aku menatapnya tertegun. Sosoknya sungguh mengusik hati yang selama ini membeku.

Farrel? Aku hanya mampu mengucapnya dalam hati.


Entah orang itu merasa atau bagaimana, ia mengangkat kepalanya menatapku heran. Aku menyipitkan mata sambil berjalan seolah tidak menatapnya. Ia kembali tertunduk menatap ponselnya.

Bukan Farrel, itu bukan Farrel.


Aku kembali menatap ke arahnya untuk memastikan.

Tidak, itu bukan Farrel.

Aku menyeberang dan masuk ke lobby hotel, dan lagi, aku menatap ke arah teras minimarket itu, masih menatap orang berhelm biru itu. Seorang wanita keluar dan meyapanya. Orang itupun segera menyalakan motornya. Aku kira wanita itu berboncengan, ternyata membawa motor sendiri. Aku tak tau kenapa, tapi orang itu menatap lobby hotel seperti tau kalau aku sedang menatapnya.

Ah, rasa inii.. kenapa terusik lagi..

***

Esoknya aku menjalani hari kerjaku seperti biasanya. Mengunjungi tempat pertama untuk meeting dengan beberapa rekan kerja. Aku sempat melupakan Farrel sejenak. Aku tak mungkin bertemu dengannya disini, ia sudah berada di kota lain, jauh dari sini.

Kerjaanku disini menguras energi dan pikiranku, sehingga tak sempat lagi aku memikirkan hal lain. Hari ketiga disini sungguh melelahkan. Malam itu, saat aku rebahan melepas penat setelah seharian meeting, aku menyempatkan chat teman-temanku di whatsapp group Makan Apa Kita?

Iya, memang awal mula grup ini digunakan untuk janjian makan siang bareng, karena kebetulan ada beberapa dari kami yang tidak sejurusan saat masih kuliah dulu. 

Gaes, gw lagi di Jogja nih, ketemuan yuk.

Seriusan lo Fan? Kemana aja lo, 6 tahun kagak nyambangin Jogja.

Eh Fanny, beneran lagi di Jogja? kok gak ngabarin sampenya, kan bisa aku jemput.

Yok, ketemuan, besok sore di Kopi Kita. Lo nginep dimana Fan?

(Reply to Sherly) Iya Sher, sok sibuk gw disana.

(Reply to Cinta) Sampenya malam Ta, aku takut ganggu kamu.

(Reply to Joni) Gw di hotel Ramasi, Boleh deh, dimana Kopi Kita itu Jon?

Deket kok sama hotel lo.

Aku ajak suami dan anakku, gpp kan?

Ya gpplah Cinta, asal jangan bawak orang sekampung, kasian nanti Joni langsung menipis dompetnya.

Kok jadi langsung nunjuk gw gitu Sher?

Kan lo yang mau traktirin kita semua kan? wkwk :))

Aku hanya tersenyum melihat percakapan grup. Mereka belum banyak berubah.

***

Hari keempat, lebih hectic dari sebelumnya. Beberapa kali ponselku berdenting, ada pesan masuk. Aku belum sempat untuk cek pesan singkatnya. Beberapa meeting sungguh melelahkan, banyaknya permintaan klien yang perlu ku analisa membuat kepalaku serasa mau meledak.

"Fan, besok datang lebih pagi ya, kita meeting internal dulu, ada klien X yang mau minta dijelaskan timeline proyek nih, mereka ada urgent terkait pencairan budgetnya." Kata salah satu rekan kerjaku.

"Oh, oke, sip." kataku yang sudah sangaat lelah.

"Sip, kamu pulang duluan aja gih, kayanya lelah banget".

"Boleh nih?"

"Ya, bolehlah, kerjaan hari ini juga udah selesai kok"

"Oke deh, makasih ya, aku duluan ya, sampai ketemu besok" Kataku segera menuju meja untuk membereskan tasku. Aku sempatkan melihat ponselku. Pesan masuk di grup.

Oi Fan lo pulang jam berapa? gw jemput aja.

(Reply to Joni) Bisa sekalian jemput aku gak? Suamiku gak jadi ikut, katanya biar aku bisa leluasa nostalgia.

Wah pengertian banget suami lo Ta. Oke, nanti habis jemput Fanny, gw ke rumah lo Ta. Fannyyy, mana sih nih anak?

Gw tunggu di TKP aja ya guys, kebetulan janjian ketemu temen disini tadi.

Ok, Sher, nih si Fanny belum bales, sibuk apa ya.

(Reply to Joni) Boleh Jon, tolong jemput gw di XX Building ya. Nih gw baru kelar kerjaan.

Nah, nongol juga nih anak, oke, gw jemput sekarang aja, gw juga udah kelar nih. Ta, siap-siap juga ya.

Oke Jon.


Tak berapa lama, Joni sudah tiba menjemputku, lalu kami pun pergi ke rumah Cinta sebelum akhirnya kami sampai di Kopi Kita.

Kami benar-benar seperti nostalgia. Joni adalah teman satu jurusan waktu S1, tapi saat S2 kami mengambil fakultas yang berbeda. Sherly adalah teman satu jurusan saat S2, sedangkan Cinta teman beda jurusan yang aku kenal saat mau mendaftar S2 dan menjadi teman berjuang bersama saat masa-masa penerimaan S2 dulu.

Waktu aku belum banyak kenal dengan teman-teman S2, hanya Joni dan Cinta saja yang jadi teman saat makan siang. Tapi setelah ada banyak tugas kelompok, dan mulai kenal banyak orang satu jurusan, aku semakin dekat dengan Sherly, dan akhirnya ku kenalkan ia pada mereka berdua.

"Jadi Fan, masih kontak-kontakan sama Farrel?" tanya Sherly tiba-tiba.

[Thang]

Tanpa sengaja, aku terlalu kuat memotong kue yang ada di hadapanku.

"Oh iya, apa kabar Farrel Fan? yang dulu dijodoh-jodohin sama lo kan ya?" imbuh Joni.

"Yaah, gak pernah kontakan lagi sejak semester-semester akhir S2 dulu, hehe" Kataku yang tak bisa menahan untuk tak menatap Cinta. Cinta hanya diam.

Ya, saat itu, aku hanya curhat pada Cinta akan kegalauanku itu, jadi Cinta tau persis apa yang ku rasakan.

"Oh iya ya, semester akhir itu dia ambil cuti ya, soalnya gak keliatan lagi di kampus" Kata Sherly

"Padahal gemes banget lihat mereka lho Jon, sama-sama suka tapi pada gengsian semua. Sampe temen satu angkatan itu pada pengen nikahin mereka aja."

Joni tertawa "Padahal awal-awal dulu, sempat pada ngira gw pacarnya Fanny kan, gara-gara sering jalan bareng."

"Haha, iya, sempet temen-temen itu gak jadi mau jodohin, pas gw bilang kalau cuma temen aja, langsung pada gencarr jodohinnya. Tapi dulu gw juga ngira lo pacarnya Fanny sih. Sebenarnya lo itu punya pacar gak sih Jon?"

"Lha kok jadi nanyain gw, emang kenapa? lo mau daftar? tenaaang, probabilitas lo diterima dibanding sama wanita-wanita lain bakalan paling tinggi kok"

"Idiiih, geer banget sih..."

Dan entah apa lagi yang mereka obrolkan, mereka sudah asyik sendiri mengobrol. Aku terdiam, menenangkan hati dan pikiran yang sudah hanyut kembali ke memori itu. Kenapa aku kembali mengingat dia sih. Ya aku tau akan begini, karena di kota inilah aku bertemu dengannya. Aku hanya bisa menghela nafas pelan.

Tiba-tiba, tangan dingin Cinta menggenggam tanganku. Aku menatapnya, Cinta tersenyum dan mengucapkan kata "gak apa" sambil menepuk-nepuk lembut lenganku seolah tau apa yang ku pikirkan. Aku membalas senyumnya.

[Thang]

Lagi-lagi..

"Lo mau mecahin piring di sini ya Fan?" Tanya Joni menahan tawa.

"Keknya dia lelah Jon, bengong gitu" bisik Sherly yang mengikuti arah pandanganku. Cinta dan Joni pun mengikuti.

Aku terpaku pada seseorang jauh di depanku. Berjalan dari arah kursi di area berseberangan dengan kami. Ia terlihat mengobrol dengan seorang wanita beserta keluarganya.

Cara jalannya, raut wajahnya. Aku mengalihkan pandangan, tapi tetap berusaha melihatnya dari sudut mataku.

Farrel kah? Itu istrinya kah?

Aku masih mengamati lewat sudut mataku ketika mereka berada di meja kasir. Cara jalan dan raut wajahnya sungguh sangat mirip. Apa dia tidak melihatku disini?

Aku mematung ketika akhirnya mereka berjalan ke arah kami. Iya, pintu keluar cafe dekat dengan area tempat duduk kami. Aku masih berpikir apa yang akan aku katakan kalau nanti dia melihatku dan menyapa. Hatiku bahkan belum siap bertemu, apalagi mengetahui ia sudah menikah. Sesak rasanya.

"Fan, gak apa?" Aku mendengar Cinta memanggilku khawatir. Tapi aku tak bisa fokus.

Aku masih mengamati mereka berjalan di dekat kami lewat sudut mataku. Dan ketika mereka berada dekat di sebelah area tempat duduk kami, barulah aku bisa melihatnya dengan jelas. Dia bukan Farrel, Farrel tidak setinggi itu.

Aku terhenyak di kursiku. Aku lelah, hatiku lelah.

"Fan, mau pulang ajakah? kayanya kamu lelah banget deh?" tanya Cinta khawatir.

Aku yang seperti sudah kembali lagi ke bumi, baru menyadari raut khawatir di wajah mereka.

"Ah, duh, maaf ya, harusnya kita kan happy-happy karena akhirnya bisa ngumpul lagi" kataku.

"Gak apa, kalau lelah mending kita pulang aja yok, daripada lo sakit" Kata Joni

"Gak Jon, gw gak papa, yuk habis ini kita kemana? gw sambil refreshing juga ini."

"Beneran?" tanya Sherly.

"Iyaaa, yuk, kemana lagi kita? Sher, lo ikut mobil Joni kan nanti?"

Dan mereka pun akhirnya heboh sendiri diskusi akan pergi kemana lagi. Cinta menatapku sambil tersenyum penuh khawatir. Aku membalasnya dengan senyuman.

"Iya Ta, rasa ini belum selesai..." Kataku lirih menahan air mata.

Cinta hanya menepuk-nepuk tanganku menenangkan. Aku menghela nafas, berharap segala sesak di hati hilang.

*****




pic download from https://www.quotemaster.org/

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca....^^