Friday, October 27, 2017

Skeptis

Iya, aku adalah tipe orang yang skeptis dengan yang namanya hubungan pertemanan (dengan wanita). Sejak dulu.

Mungkin karena sejak kecil aku tak pernah memiliki teman dekat wanita. Teman sebayaku kala itu kebanyakan (bahkan hampir semua) cowok. Segala permainan anak laki-laki itulah yang diajarkan padaku. Dan mungkin karena itulah, aku hanya belajar menyelesaikan konflik pertemanan dengan anak laki-laki (yang gak jauh-jauh menyelesaikannya dengan berantem atau mukul dia, yang berujung malah aku yang nangis), tapi besoknya ya main kaya biasanya, dan yang berkonflik denganku pun juga biasa lagi.

Hidup pertemananku aman damai sentosa, pun aku punya teman wanita di sekolah, konflikku dengan mereka hampir tak pernah ada (yang ada malah mereka diganggu yang cowok-cowok). Hingga akhirnya aku kelas 5 SD, dan murid pindahan itu datang ke sekolahku, merubah segalanya.

***

Bisa dibilang ia anak dari kota, datang ke sekolah kami yang berada di lingkungan kampung. Kami-kami yang lugu ini merasa amaze dengannya yang kami lihat sudah terlihat dewasa untuk umur seusia kami (yang masih hobi ngejar-ngejar layangan, atau main lari-larian di sekolah). Dan dia juga cantik, feminim sekali. Aku tak pernah tau harus memulai pembicaraan apa dengan anak perempuan (karena kalau obrolanku, nyambungnya cuma sama anak cowok, dooh). Ketika mereka ngobrolin sailormoon, aku hanya tahu satria baja hitam.

Dan yaa, lambat laun, teman-temanku sekelas mendekat padanya, ingin tahu tentangnya, dan aku masih sama, tak tahu harus memulai obrolan dari mana.

Aku termasuk anak yang dikenal guru-guru di sekolah, selain karena ibuku adalah kepala sekolah, juga karena ulahku yang bandelnya minta ampun (aku gak ingat sih seberapa bandelnya aku, tapi ibuku bilang, selama sekolah disana, guru-guru yang jadi wali kelasku selalu curhat ke ibu karena gak bisa menghadapi ulahku). Yang disayangkan, walaupun aku bandel, tapi nilaiku selalu tertinggi di kelas, yang selalu buat guru-guru bilang 'ya sudahlah'. Dan ya, karena nilaiku inilah, aku selalu jadi tempat bertanya teman-temanku, dan entah sejak kapan, anak pindahan itu pun ikut bertanya.

Caturwulan demi caturwulan berlalu, kami naik ke kelas 6. Tidak ada rolling kelas, kami masih dengan anak-anak yang sama. Kami sudah mulai belajar lebih tekun untuk persiapan ebtanas saat itu. Dan aku, sudah bisa akrab dengan anak pindahan itu, bahkan di awal kenaikan kelas 6, dia mengusulkan adanya kelompok belajar, setiap pulang sekolah belajar di rumah anggota kelompok secara bergantian.

Aku senang, karena hanya dengan itu saja aku bisa akrab dengan teman-teman wanita. Aku melakukan apapun agar tak menyakiti mereka. Ketika mereka bertanya PR matematika dan memintaku datang lebih pagi, pun aku turuti. Yang penting kalian tetap jadi temanku, aku tak pernah punya teman akrab wanita.

Hingga, pada suatu hari, ketika belajar kelompok di rumah anak pindahan itu, aku datang telat, teman-teman yang lain sudah datang. Aku menuju ke selasar ruangan yang biasanya dipakai belajar kelompok, sudah banyak sandal disana.

Waah, mereka sudah pada datang.

Aku berlari kecil, berharap tidak tertinggal diskusi. Namun sesampainya di depan pintu yang tertutup. Aku menemukan tulisan nama-nama anggota kelompok belajar tertulis di kertas dan di pohon kaktus di halaman kecil di depan ruangan tersebut. Hanya namaku disana yang dicoret-coret, yang lain tidak.

Deg

Aku merasakan sesak yang baru pertama kurasakan. Perasaan apa ini?
Aku tak menggubrisnya, sekalipun entah kenapa mataku berair. Aku menuju pintu, dan ketika hendak aku buka, aku mendengar obrolan mereka dari dalam.

"udahlah, gak usah ajak Fajar (panggilanku saat itu), kita berempat aja"

"tapi kasihan, kan dia udah bantuin kita belajar"

"habisnya gak seru kalau dia ikut"

Hening, tak ada sahutan. Dan dadaku semakin sesak, air mata tiba-tiba saja mengalir. Aku menyekanya dengan jemariku.

Aku ini kenapa? kenapa ini sakit banget?

Itu pertama kalinya, aku merasakan sakit hati. Aku hanya berdiri mematung di belakang pintu, meremas baju depanku dengan satu tangan, sedangkan tangan lain sibuk menyeka air mata yang entah kenapa mengalir terus. Aku berusaha menenangkan diriku sendiri sekalipun saat itu aku bingung.

Ketika aku sudah mulai tenang, dan tak ada air mata lagi, aku membuka pintu dan menyapa mereka seperti biasanya. Entahlah, saat itu aku merasa tak berdaya, tidak seperti konflik biasanya yang selalu ku balas dengan berantem, konflik yang ini, aku tak tau harus dihadapi seperti apa.

Dan sejak saat itu, aku merenggangkan sedikit pertemananku, aku masih menyapa seperti biasanya, namun tak lagi aku berikan hatiku dalam sapaan itu. Aku takut tersakiti, hingga aku akhirnya egois untuk tak lagi memberikan hatiku pada mereka. Pelajaran bahasa indonesia saat itu menjelaskan segalanya.

Tentang sakit hati.
Tentang 'habis manis sepah dibuang'.
Tentang 'manis di depan, pahit di belakang'.

Ah, lagi-lagi aku egois, hanya peribahasa yang menggambarkan sakit hatiku saat itu saja yang ku ingat. Dan itu yang selalu ku gemakan dalam hatiku ketika ada teman wanita berbuat baik padaku. Pasti ada maunya.

Trauma itu terbawa hingga aku masuk SMA.

Aku memilih SMA yang jauh dari rumah, dua kali naik angkot. Aku ingin tahu sosialisasi di luar lingkungan rumahku yang biasanya. Dan, yaa~, aku menemukan banyak karakter disana. Dan aku kembali dipertemukan dengan teman-teman wanita, satu kelompok belajar. Kenanganku saat SD dulu selalu mengapung keluar. Ada ketakutan dalam senyum ramahku.

Aku mencoba menghilangkan kenangan itu dengan meng-iya-kan ajakan belajar kelompok itu. Kami berenam saat itu, tak ada yang satu sekolah, dan memutuskan menamakan kelompok kami The-X-Blue. Entahlah dapat ide nama dari mana itu, haha.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Tanpa sadar aku selalu bersama mereka melewati semester 1 di kelas X. Ketakutan itu masih ada, tapi selama bersama mereka aku tak pernah tersakiti. Mereka bilang aku terlalu pendiam. Sebenarnya aku takut kawan. Namun akhirnya, di semester 2 ku, aku memberanikan diri untuk tidak diam. Anggaplah mereka seperti teman-teman cowokmu kala kecil. Dan itu berhasil, merekalah yang pertama, terima kasih Gals.

Naik ke kelas XI, kami sudah penjurusan, teman se-gank berpencar di kelas yang berbeda. Aku masuk ke kelas IPA. dan dipertemukan dengan seorang jilbaber, teman sekelas yang baru. Kami punya passion yang sama. Kami punya jalan pikiran yang sama. Tapi karakter kami saling berseberangan. Ia yang cuek, aku yang perasa. Ia yang galak, aku yang diam. Ia yang tak sabaran, aku yang hobi berlama-lama. Tapi dari dia, aku baru mengenal yang namanya teman rasa saudara. Dari dia, aku belajar untuk sedikit terbuka. Dia adalah salah satu dari 3 jilbaber yang aku sapa dengan sebutan triple E.

Dan kemudian ketika kuliah. Kuliah di jurusan yang minoritas wanita itu mempertemukanku dengan para ABG (Akhwat Berjilbab Gede). Dari mereka aku belajar bagaimana islam mengatur sebuah pertemanan.

Islam mengajarkan tabayyun ketika mendengar kabar tak baik tentang saudara / teman kita.
Islam mengajarkan untuk tak membuka aib saudaranya.
Islam mengajarkan untuk tak membahas hal yang tidak diketahui oleh salah satu dari teman kita saat berkumpul bersama.

Indahnya persahabatan baru kurasakan saat itu. Sebuah ikatan dalam dekapan ukhuwah. Terima kasih temans, i love you all.

Tapi, aku masih tetap egois, rasa tak ingin tersakiti lagi membuatku pemilih dan menarik ulur kedekatanku. Hingga sekarang.

4 comments:

Terima kasih sudah membaca....^^