Wednesday, February 04, 2015

Sekilas Cerita

Sore hari, Bandung masih diguyur hujan. Aku hanya duduk termenung di kursi tunggu stasiun. Sesekali menatap smartphoneku yang kini sudah kehabisan daya. Baiklah, aku matikan dulu..

Tak ada yang bisa ku kerjakan selama menunggu beberapa jam di stasiun. Stasiun semakin penuh sesak oleh penumpang. Sesekali ku lihat penumpang yang berlari-lari memasuki kereta yang sudah hendak pergi.

Priiiiiit..

Peluit petugas stasiun berteriak nyaring, memberikan kode pada masinis untuk segera membawa ular besi ini pergi dari kandangnya.
Aku mengalihkan pandanganku kini dari rel ke ponsel lamaku. 721 pesan singkat tersimpan di inbox. Iseng, aku lihat detail pesan paling lama yang ada disana. Dikirim tanggal 11 Juni 2014.
Hapus semua gak ya.. pikirku.
Tapi kemudian hanya ku biarkan ia tersimpan di inbox. Nanti deh hapusnya..


Sudah menjelang maghrib sekarang, Kereta yang akan membawaku kembali ke Yogyakarta sudah tiba di jalurnya. Dengan sempoyongan aku beranjak dari kursiku. Aku diam berdiri sejenak menghilangkan pening yang tiba-tiba menyerang. Mataku mulai berkunang-kunang. Kawan seperjalanan sudah jauh berjalan mendahuluiku yang masih berdiri di tempat yang sama.

"Dyah..." panggil kawanku yang sekarang berhenti menungguku.

Aku tersenyum, menyambar tasku, dan memaksakan jalan sekalipun masih sedikit sempoyongan.

Aku kenapa?

Gerbong eksekutif 2 berada agak jauh dari pintu masuk. Di dalamnya, jajaran kursi-kursi yang sebagian besar masih kosong menyapa. Kami segera duduk di nomor kursi yang tertera di tiket. Aku memilih kursi samping jendela. Meletakkan tasku ditempat bagasi, mengeluar charger, menghubungkannya dengan smartphoneku, kemudian menyalakannya. Rentetan bunyi notifikasi chat pun terdengar.

Aku hanya menatapnya dengan mata yang masih sedikit kabur. Masih berpikir balas sekarang atau nanti ya..
Namun akhirnya aku balas juga chat-chat dan e-mail yang masuk saat itu.


Pukul 19.00, peluit petugas stasiun sudah terdengar. Disambut dengan teriakan klakson angin si ular besi ini. Gerbong-gerbong kereta pun mulai bunyi berderak, bergesekan dengan rel-rel besi.

Suara petugas stasiun pun terdengar dari pengeras suara dalam gerbong. Memberikan sapaan seperti biasa. Aku sambil lalu mendengarkan, menatap keluar jendela sebentar, menyambar smartphoneku yang masih terhubung dengan listrik, membuka satu aplikasi, dan mulai menulis cerita di blogku. Ya, hanya sebuah cerita sambil lalu dalam gerbong kereta.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca....^^