Wednesday, February 18, 2015

Aneh Ku Rasa

Aneh rasanya ketika baru sekarang aku tersadar..
Namun apalah daya, semua telah terjadi..
Egois jika aku menuntut semua sesuai kehendakku..
Haaah, aku hanya mampu menghela nafas panjang..

Ketika aku berusaha bangkit menerima semua yang terjadi..
Untaian kata itu kembali membuatku terpuruk..

Rinai hujan kini turun lagi..
Aku masih saja termenung di depan laptop biruku..
Sesekali menghela nafas, sesekali memandang kosong, melamun..
Ah, kenapa tak sedari dulu aku bersamamu dan terus memikirkanmu... thesiiiis, pliss.. *acak-acak jilbab*

---

kali ini, kata itu datang dari orang yang sama dan bilang "Aneh". Okeh, akhirnya posting gak jelas ini ku buat hanya bermodal setiap huruf dari judul yang ditulis menjadi judul posting kali ini.

Saturday, February 07, 2015

Tak Berbalas

Hai Alpha,
Hari ini kota sedikit mendung, terlihat sejuk. Enak deh buat jalan-jalan.

Tanganku terhenti mengetikkan kalimat dalam sebuah e-mail. Aku hanya terdiam memandang layar ponselku itu. Menatap alamat e-mail yang ada disana dengan mata nanar.

Hari ini, aku dan beberapa kawan mengerjakan tugas bersama.

Aku terdiam lagi, kini hanya mampu menatap tombol Send di sudut kanan layar ponsel. Dengan ragu aku menekannya. Sudah tak terhitung e-mail yang ku kirim saat itu. Tanpa ada balasan yang selalu --dengan egoisnya-- aku harapkan.

Haaah, lihatlah mendung putih menggelayut di langit.


Aku beranjak dari kursi panjang di salah satu pemberhentian bus di kota ini. Aku berjalan menyusuri jalanan yang saat itu tidak terlalu banyak kendaraan lalu lalang. Jalanan hanya diisi oleh para pesepeda dan orang-orang yang hanya sekedar jogging disana.

Car free day sekarang ya...

Gerimis sudah mulai berjatuhan ke atas wajahku. Dengan berlari kecil, aku menuju salah satu bookstore. Toko buku yang juga merangkap sebagai kafe. Pintu dan jendela-jendela kaca kafe tersebut memberitahuku bahwa belum ada pengunjung di sana. Hanya ada beberapa pegawai kafe yang sedang menyusun dan membersihkan meja kursi di sana.

"Selamat siang, selamat datang..." Sapa penjaga kasir ketika aku membuka pintu kafe, membuatku menyempatkan diri untuk melihat jam yang menempel di dinding di belakang kasir tersebut. Masih pukul 10. Pikirku

Aku tersenyum dan berkata "Siang". Para pegawai lain menghentikan aktifitas mereka, dan menatapku dengan tersenyum. Mereka menungguku memilih salah satu meja untuk aku tempati saat itu.

Aku memilih salah satu meja yang terletak dekat jendela di seberang ruangan. Melewati labirin rak -rak buku --yang tidak terlalu tinggi-- yang juga merangkap sebagai sekat / pembatas antara sekumpulan meja-meja. Sehingga seolah menciptakan ruangan-ruangan tersendiri.

Di sudut sebelah kiri ruangan, hampir ke tengah, berjajar rapi rak-rak buku berwarna putih yang lebih tinggi, menampilkan buku-buku baru yang dijual di sana. Rak-rak buku itu berbentuk selayaknya rak pada umumnya. Sedangkan rak buku kecil --yang juga dijadikan sekat ruangan-- berbentuk unik. Ada yang melingkar-lingkar, ada yang berbentuk belah ketupat, ada pula yang seperti sarang lebah.

D

Aku menatap ke langit-langit kafe, sebuah penanda bertuliskan D menggantung di sana. Aku segera menghempaskan tasku ke kursi sofa panjang berwarna hijau muda. Salah satu waitress --yang mengikutiku sampai ke kursiku-- menyodorkan buku menu seraya mengeluarkan smartphonenya.

Wednesday, February 04, 2015

Sekilas Cerita

Sore hari, Bandung masih diguyur hujan. Aku hanya duduk termenung di kursi tunggu stasiun. Sesekali menatap smartphoneku yang kini sudah kehabisan daya. Baiklah, aku matikan dulu..

Tak ada yang bisa ku kerjakan selama menunggu beberapa jam di stasiun. Stasiun semakin penuh sesak oleh penumpang. Sesekali ku lihat penumpang yang berlari-lari memasuki kereta yang sudah hendak pergi.

Priiiiiit..

Peluit petugas stasiun berteriak nyaring, memberikan kode pada masinis untuk segera membawa ular besi ini pergi dari kandangnya.
Aku mengalihkan pandanganku kini dari rel ke ponsel lamaku. 721 pesan singkat tersimpan di inbox. Iseng, aku lihat detail pesan paling lama yang ada disana. Dikirim tanggal 11 Juni 2014.
Hapus semua gak ya.. pikirku.
Tapi kemudian hanya ku biarkan ia tersimpan di inbox. Nanti deh hapusnya..

Selamat Malam Bandung

Rasanya sudah lama aku tak bemain-main dengan khayalan. Membuat sebuah cerita khayal yang kadang tak jelas alurnya (Haha.. aku memang tak pandai membuat cerita). Entah sudah berapa banyak cerita khayal yang ku tulis saat SMA dalam buku tulis (tulis tangan bro..), tapi kini buku itu hilang entah kemana. 

(gambar hasil unduh) - (picture downloaded from google)

Oke, malam ini, aku di Bandung. Tidak, bukan menetap, hanya memenuhi "tugas negara" inilah yang membuatku "terdampar" disini. Titik-titik lembut hujan membasahi bandara ketika kami tiba sore tadi. Yup, aku tak sendirian kesini, ada dua orang teman menemani.

Suasana Bandung?

Masih padat seperti biasa. Obrolan-obrolan yang kebanyakan dengan bahasa Sunda mulai terdengar setelah kami keluar dari Bandara. Aku melihat ke ponselku yang masih memutarkan musik instrumen. Sudah ada 8 chat yang masuk ponsel, berebut minta dibaca. Aku memilah chat yang kira-kira tak perlu jawaban yang harus aku pikirkan terlebih dahulu.

Monday, February 02, 2015

Painem

Namanya Femi. Kawan pertamaku saat masuk S2. Dia satu tahun di atasku, tapi dengan tidak sopannya aku bilang "aku panggilnya Femi aja ya.." waktu pertama kali kenalan. Tapi dia-nya juga meng-iyakan kok.

Entah sejak kapan kami jadi semakin dekat dan sering sekali satu kelas (walau akhirnya kami beda ambil konsentrasi kuliah).

Lalu painem itu nama siapa Dy?

Itu panggilan kesayanganku untuknya. Yaaa.. gara-gara dia juga yang tetiba manggil aku paijem (entah dapat ide darimana dia itu..).