Saturday, September 13, 2014

Mengapa Kau Menjadi Matahari



Saat aku melihat mu dalam foto ini benakkupun bertanya,

"Mengapa kau memutuskan untuk menjadi bintang?
Mengapa engkau memutuskan untuk menjadi sumber cahaya yang menerangi seluruh planet­planet yang senantiasa setia mengelilingi mu?
Mengapa engkau berbeda dengan lainnya?
Mengapa engkau tidak menjadi sebuah planet yang seperti bumi?

Kau tau resiko mu menjadi sebuah bintang adalah setiap detik kau fusikan nuklir dalam dirimu. Kau tau resiko menjadi sebuah bintang permukaan mu senantiasa bergejolak dan tak pernah stabil. Wajah mu setiap saat mengerikan dan hampir dikatakan kau bak neraka di dunia ini yang panas dan tak bersahabat. Rotasi permukaan mu di ekuator jauh lebih cepat dari pada rotasi mu dikutub.

Mengapa engkau menjadi sebuah bintang? Saat mereka mendekatimu, tidak ada yang mampu bertahan dari suhumu yang langsung menguapkan semua materi­materi yang mendekatimu.

Mengapa engkau masih saja menjadi sebuah bintang?"

Kaupun berkata,

"Aku telah memutuskan untuk menjadi diriku sendiri. Aku bahagia menjadi sebuah bintang meski menjadi bintang tidaklah semudah yang dibayangkan. Tanggung jawab ku besar, resiko dan konsekuensi yang kuambilpun tidak main­main.

Aku tau lidahku saat menjilat keluar atmosfer dapat menjadi badai yang dapat menyebabkan bencana bagi planet­planet ku saat mereka tidak memiliki magnetosfer. Aku tau saat aku nanti tiada, aku hanya akan menjadi planetari nebula dan tidak seperti kawan­kawan ku yang lain. Yang saat mereka tiada mereka menjadi supernova yang sangat terang hingga setiap mereka yang melihatnya akan mengenang ledakannya.

Namun aku berbahagia menjadi bintang seperti diriku saat ini karena aku dapat menerangi seluruh planet­planet ku. Karenanya aku menjadi bermanfaat, sinar yang kupancarkan dapat digunakan bagi manusia yang tinggal diplanet bumi. Aku tidak ingin selama hidupku menyesal seperti yang jupiter alami selama hidupnya. Dia takkan pernah bisa menjadi sebuah bintang yang menerangi sekelilingnya karena massanya yang kurang dan saat ia menjadi sebuah planet ia pun tidak bisa menjadi planet seperti bumi yang memberikan kehidupan didalamnya.

Dalam setiap kehidupan ini pastilah dihadapkan pada keputusan. Tegaslah dalam mengambil keputusan. Aku tau apa yang kuputuskan dan aku siap dengan segala resiko dan konsekuensi nya. Aku nyaman dan bahagia menjadi sebuah bintang karena aku seperti apa yang aku impikan selama hidupku yaitu bermanfaat bagi sesamaku.


by: Eko Hadi

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca....^^